Etiolasi
Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, dikenal
dengan adanya pergerakan batang untuk tumbuh menuju arah datangnya cahaya.
Pergerakan ini dikenal dengan istilah etiolasi, artinya dimanapun tumbuhan itu
tumbuh, baik di ruangan atau di tempat terbuka pasti melakukan pergerakan
ini-menuju arah datangnya cahaya-. Sungguh betapa besar keagungan Allah SWT
untuk menunjukan betapa besarnya ke Maha Kuasa nya, semua menjadi pelajaran
bagi orang yang berfikir. Konsep etiolasi ini mempunyai filosofi yang menarik
untuk di kaji bersama.
Etiolasi melibatkan tiga hal penting, cahaya sebagai
tujuan, batang tumbuhan sebagai subjek pergerakan dan hormon untuk kemaksimalan
seberapa cepat tumbuhan itu bergerak.
Ketika diibaratkan dengan manusia, maka cahaya
ialah hidayah Allah atau jalan yang benar, batang sebagai seorang muslim, dan
hormon sebagai semangat untuk menuju cahaya hidayah itu. Lantas ada sebuah
pertanyaan, tumbuhan yang memiliki keterbatasan dalam banyak hal dibandingkan
dengan manusia, ternyata memiliki ketaatan terhadap perintah sang penciptanya.
Artinya, ketika tumbuhan itu tidak melakukan hal tumbuh untuk menuju cahaya,
tumbuhan akan merasakan penderitaan, bagaimanakah dengan manusia?? Seberapa
jauh ketaatan dengan Allah sehingga dengan ketaatan tadi manusia tidak
bermaksiat kepada Allah swt. Manusia sudah dikaruniakan akal sebagai pembeda
dengan makhluk lain, bahkan dengan malaikat manusia bisa lebih tinggi
derajatnya, atau dengan binatang, manusia bisa menjadi lebih rendah derajatnya
karena akal juga.
Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka
Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (al-a’eaf 179)
mestinya, manusia perlu belajar banyak dari tumbuhan tentang taat terhadap perintah Allah SWT, mencari cahaya/ petunjuk yang diberikan Allah SWT dalam melangkahkan kakinya untuk menyelami kehidupan. Ketika tumbuhan tidak mendapatkan cahaya, maka ia akan berusaha terus untuk mendapatkannya, meskipun ia harus memutar balik arah pertumbuhan batangnya, yang mungkin mengganggu kestabilan hidupnya. Hal ini senantiasa dilakukan, bagaimana dengan manusia, apakah akan menyerah begitu saja ketika terjadi pergolakan fluktuasi iman/ naik turunya iman? Ketika iman sedang turun, ap yang dilakukan mansuia, apakah mencari kesibukan untuk membangkitkan iman atau membiarkan sampai ada yang mengingatkannya Atau harus di tambah dengan “pupuk” untuk membangkitkan imannya, lantas jika yang dibutuhkan manusia sangatlah rumit yang hanya ditujukan untuk mencapai satu hal saja-tetap berada dijalan-Nya-, begitu sombong dan malaslah manusia. Bagaimana mungkin alasannya ialah kemalasan, atau ketidaksempatan karena padatnya aktifitas hidup untuk senantiasa mendekatkan diri kepada petunjuk Allah SWT, Allah telah memberikan banyak kesempatan dari waktu atau hal lainnya, semua gratis untuk manusia. Namun, berapa banyak di dunia ini, manusia yang dapat menggunakan waktu yang telah diberikan untuk semakin mempercepat laju “etiolasi” kepada Allah SWT. Maka perlulah falsafah ini di pegang untuk menunjukan bahwa manusia itu memang makhluk yang sempurna.
mestinya, manusia perlu belajar banyak dari tumbuhan tentang taat terhadap perintah Allah SWT, mencari cahaya/ petunjuk yang diberikan Allah SWT dalam melangkahkan kakinya untuk menyelami kehidupan. Ketika tumbuhan tidak mendapatkan cahaya, maka ia akan berusaha terus untuk mendapatkannya, meskipun ia harus memutar balik arah pertumbuhan batangnya, yang mungkin mengganggu kestabilan hidupnya. Hal ini senantiasa dilakukan, bagaimana dengan manusia, apakah akan menyerah begitu saja ketika terjadi pergolakan fluktuasi iman/ naik turunya iman? Ketika iman sedang turun, ap yang dilakukan mansuia, apakah mencari kesibukan untuk membangkitkan iman atau membiarkan sampai ada yang mengingatkannya Atau harus di tambah dengan “pupuk” untuk membangkitkan imannya, lantas jika yang dibutuhkan manusia sangatlah rumit yang hanya ditujukan untuk mencapai satu hal saja-tetap berada dijalan-Nya-, begitu sombong dan malaslah manusia. Bagaimana mungkin alasannya ialah kemalasan, atau ketidaksempatan karena padatnya aktifitas hidup untuk senantiasa mendekatkan diri kepada petunjuk Allah SWT, Allah telah memberikan banyak kesempatan dari waktu atau hal lainnya, semua gratis untuk manusia. Namun, berapa banyak di dunia ini, manusia yang dapat menggunakan waktu yang telah diberikan untuk semakin mempercepat laju “etiolasi” kepada Allah SWT. Maka perlulah falsafah ini di pegang untuk menunjukan bahwa manusia itu memang makhluk yang sempurna.
0 komentar:
Posting Komentar